Eksklusif-news.com, SIANTAR
Akibat nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar terus melemah dan terjadi kenaikan berbagai harga bahan baku usaha serta kebutuhan pokok, pelaku usaha dan ibu rumah tangga mengeluh.
Berbagai harga kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan itu terutama barang impor yang berasal luar negeri. Bahkan, kenaikan harga BBM turut memberi dampak domino yang turut mendongkrak kenakan harga barang dalam negeri.
Hendro (35), pelaku usaha kecil pembuat tahu dan mie kuning basah di Jalan Pitola, Kelurahan Tomuan, Kecamatan Siantar Timur Kota Siantar mengatakan, harga kedelai yang diimpor dari Amerika melejit naik sampai Rp40 ribu per karung ukuran 50 Kg.
“Mau tidak mau, kita harus membeli karena kedelai merupakan bahan baku pokok. Kalau beli kedelai lokal tidak berkualitas. Selain itu, harga tepung tapioka bahan mie kuning basah, garam dan minyak goreng juga naik,” kata Hendro, Selasa (16/06/2026).
Dijelaskan, saat harga berbagai bahan baku mengalami kenaikan, tidak mungkin menaikkan harga tahu dinaikkan atau mengecilkan ukuran karena pelanggan akan berpindah. Apalagi minat beli semakin rendah.
“Sebenarnya kita menjerit. Untuk dapat bertahan saja sudah bagus,” kata Hendro sembari mengatakan, kondisi saat ini membuat para pengusaha kecil bawah resah. ”Kami butuh perhatian pemerintah supaya usaha tidak mati,” imbuhnya.
Terpisah, Bakhtiar sebagai pengusaha kebutuhan pokok membenarkan bahwa minat beli masyarakat semakin lemah akibat kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok. “Kenaikan harga tidak drastis. Tetapi berangsur-angsur. Misalnya, beras,” imbuhnya di warung |Jalan Siatas Barita, Kelurahan Tomuan.
Menurunnya, minat beli masyarakat akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok suatu hal yang lumrah karena upah masyarakat yang bekerja informal atau buruh, tidak mengalami kenaikan.
“Di sinilah masyarakat butuh perhatian pemerintah supaya perekonomian masyarakat tidak gulung tikar,” katanya mengakhiri. (nas)
