Program MBG: Antisipasi Korupsi Lebih Baik Diganti Uang Kontan

Program MBG: Antisipasi Korupsi Lebih Baik Diganti Uang Kontan
Surati dan Henry Yahya

Eksklusif-news.com SIANTAR 

Mengantisipasi penyalahgunaan anggaran atau korupsi pada program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang  sedang menjadi sorotan negatif dan ada yang ditangkap, lebih baik  MBG itu diganti dengan uang kontan.

“Salah satu potensi korupsi program MBG, dapat dicermati dari menu yang disajikan kepada penerima manfaat seperti pelajar, balita, ibu hamil dan lansia,” kata Dosen STAI Samora Pematangsiantar, Henry Yahya M Pd, Minggu (21/06/2026).

Nilai makanan per ompreng yang ditentukan Rp10 ribu.  Ketika dicermati lebih jauh, kadang tidak berkualitas dan nilainya diduga tidak sampai Rp10 ribu per ompreng. Kemudian, tidak sedikit penerima manfaat menolak MBG  karena kualitasnya dinilai rendah.  

Akibatnya, MBG terbuang dan terjadi pemborosan. Sementara, makanan yang disajikan, dimasak malam hari dan baru dibagikan ke sekolah sekitar pukul 11.00 WIB.

“Kalau diganti dengan uang kontan yang diberikan kepada para orang tua pelajar, jelas menutup potensi korupsi dari sektor menu. Selain itu, para orang tua  juga mengetahui gizi untuk anaknya dan makanan tidak akan terbuang,” kata Henry Yahya.

Secara umum, Henry Yahya mengetahui memang belum ada permasalahan menonjol terkait program MBG di Kota Pematangsiantar dan belum melaporkan kepada aparat penegak hukum.

PRO DAN KONTRA 

Terpisah, Surati sebagai Ketua RW.10 Kelurahan Bantan Kecamatan Siantar Barat mengatakan, masyarakat sekitar lingkungannya sering membahas program MBG yang ternyata menimbulkan pro dan kontra.

“Bagi yang pro, program MBG dikatakan  memiliki dampak positif karena orang tua tidak perlu lagi menyediakan makanan untuk dibawa anak-anak ke sekolah dan uang jajan juga  dapat dikurangi,” kata Surati.

Bagi yang kontra, lebih baik MBG ditiadakan karena banyak juga tidak memakan MBG karena menunya sering tidak sesuai dengan selera kalangan pelajar. Untuk itu lebih baik diganti dengan uang kontan.

Kalau MBG ditiadakan, kantin sekolah akan menggeliat kembali. Tidak seperti saat ada program MBG. Namun, kalau program MBG dihentikan, tentu terjadi pengangguran karena banyak tenaga kerja yang diterima untuk beekerja di SPPG. 

“Kalau MBG ditutup,  pemerintah harus memberi solusi terkait dengan munculnya pengangguran dengan membuka lowongan pekerjaan yang lebih besar,” katanya.

Disinggung juga, sejak ada program MBG,  saat pihak SPPG berbelanja dalam skala besar, persediaan kebutuhan pokok menjadi berkurang dan harga menjadi tidak stabil bahkan sering naik khususnya harga ayam potong, telur dan ikan laut. 

“Saat ini pemerintah sepertinya belum punya rencana menghentikan program MBG. Tapi, itu tadi, kalau lanjut, semua sektor harus diperbaiki total,” katanya mengakhiri. (nas)

 

Berita Lainnya

Index