MUI Pematangsiantar : Pemanfaatan AI untuk Berdakwah Wajib Kedepankan Etika

Sabtu, 12 September 2026 | 16:59:30 WIB
Nara sumber dan peserta

Eksklusif-news.com, SIANTAR    

Dakwah dengan memanfaatkan  AI (kecerdasan buatan) melalui digital, wajib dilakukan dengan mengedepankan etika. Kedua unsur itu tidak terpisahkan. Artinya, dakwah untuk mengajak orang untuk berbuat baik harus disampaikan dengan adab yang baik.

Pernyataan itu disampaikan  Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematangsiantar, Drs H M Ali Lubis pada Workshop Pemanfaatan AI Kreatif  Dakwah Islam, Sabtu (12/09/2026) mulai pukul 08.30 sampai 12.10 WIB.

Kegiatan yang diikuti 66 orang peserta dari perwakilan seluruh Komisi MUI Pematangsiantar dan pengurus MUI Kecamatan itu, berlangsung di aula MUI Pematangsiantar, Jalan Kartini Pematangsiantar, Sabtu (12/09/2026) mulai pukul 08.30 sampai 12.10 WIB.

“Kegiatan ini sangat positif karena di era digital seperti sekarang, AI sudah menjadi kebutuhan untuk dimanfaatkan dengan baik,” ujar Drs H M Ali Lubis yang mengusung materi dengan tema, "Etika dan Peluang Dakwah di Era Digital".  

Ditegaskan, etika atau adab berada di atas ilmu. Dakwah baru sempurna kalau disampaikan dengan  mengedepankan etika. Kemudian, H M Ali  mencontohkan tentang kesombongan  iblis yang tidak beretika untuk menghormati Nabi Adam seperti yang diperintahkan Allah.

Sebelumnya, Ketua Komisi Infokom MUI Pematangsiantar, Dr Ahmad Fithrianto SAg MA melalui laporannya mengatakan, Workshop Pemanfaatan AI Konten Kreatif Dakwah Islam untuk membekali para ustadz dan ustazah  memanfaatkan AI dalam berdakwah.

“Dakwah melalui AI ini sebagai pengembangan meski dakwah secara manual tetap dilaksanakan,” ujar Dr Fithrianto sembari berharap agar peserta dapata menyerap materi dari narasumber dengan sebaik-baiknya. 

Selanjutnya, narasumber Syawaluddin Kadafi P M Kom memberi pemahaman  tentang AI “Gemini” kepada para peserta yang masing-masing menggunakan  hanphone maupun laptop.

“Teknologi AI tidak boleh digunakan sembarangan. Kita wajib mematuhi amanah ilmiah (Tabayyun), karena  AI hanya asisten pencari ide dan validasi dalil Alquran maupun Hadits wajib dilakukan dengan manual,” katanya.

Kemudian mengutamakan Kejujuran Kreatif atau anti-fitnah, tidak memanipulasi tokoh nyata (deepfake) maupun membuat konten menyesatkan. Setiap konten harus membawa keteduhan, mempererat ukhuwah, dan jauh dari unsur SARA.

Selanjutnya, Syawaluddin Kadafi P M Kom didampingi Bobby yang juga sebagai narasumber  langsung melakukan praktek terkait pemanfaatan AI. Antara lain terkait  prompt presisi untuk visual dakwah (gambar & poster).

Selain itu, terkait  rumus emas formulasi prompt prestisi prompt AI untuk video sinematik  dan audio (reels/shorts).

Saat dilakukan praktek, para peserta yang dibagi berkelompok, tampak begitu antusias mengikuti arahan  dari kedua narasumber  dengan mendatangi tentang tenik AI untuk memproduksi visual dan audio AI.

Di penghujung workshop, dilakukan penilaian yang dihasilkan peserta dan ditentukan empat kelompok peserta terbaik untuk mendapat  penghargaan dana pembinaan.

Sebelum dilakukan penutupan,  Dr Ahmad Fithrianto SAg MA yang mengucapkan terimakasih khususnya kepada para peserta, kembali menekankan, ilmu yang sudah diperoleh harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai bagian dari dakwah. (nas)

Terkini