Eksklusif-news.com, SIANTAR
Dakwah dengan memanfaatkan AI (kecerdasan buatan) melalui digital, wajib dilakukan dengan mengedepankan etika. Kedua unsur itu tidak terpisahkan. Artinya, dakwah untuk mengajak orang untuk berbuat baik harus disampaikan dengan adab yang baik.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematangsiantar, Drs H M Ali Lubis pada Workshop Pemanfaatan AI Kreatif Dakwah Islam, Sabtu (12/09/2026) mulai pukul 08.30 sampai 12.10 WIB.
Kegiatan yang diikuti 66 orang peserta dari perwakilan seluruh Komisi MUI Pematangsiantar dan pengurus MUI Kecamatan itu, berlangsung di aula MUI Pematangsiantar, Jalan Kartini Pematangsiantar, Sabtu (12/09/2026) mulai pukul 08.30 sampai 12.10 WIB.
“Kegiatan ini sangat positif karena di era digital seperti sekarang, AI sudah menjadi kebutuhan untuk dimanfaatkan dengan baik,” ujar Drs H M Ali Lubis yang mengusung materi dengan tema, "Etika dan Peluang Dakwah di Era Digital".
Ditegaskan, etika atau adab berada di atas ilmu. Dakwah baru sempurna kalau disampaikan dengan mengedepankan etika. Kemudian, H M Ali mencontohkan tentang kesombongan iblis yang tidak beretika untuk menghormati Nabi Adam seperti yang diperintahkan Allah.
Sebelumnya, Ketua Komisi Infokom MUI Pematangsiantar, Dr Ahmad Fithrianto SAg MA melalui laporannya mengatakan, Workshop Pemanfaatan AI Konten Kreatif Dakwah Islam untuk membekali para ustadz dan ustazah memanfaatkan AI dalam berdakwah.
“Dakwah melalui AI ini sebagai pengembangan meski dakwah secara manual tetap dilaksanakan,” ujar Dr Fithrianto sembari berharap agar peserta dapata menyerap materi dari narasumber dengan sebaik-baiknya.
Selanjutnya, narasumber Syawaluddin Kadafi P M Kom memberi pemahaman tentang AI “Gemini” kepada para peserta yang masing-masing menggunakan hanphone maupun laptop.
“Teknologi AI tidak boleh digunakan sembarangan. Kita wajib mematuhi amanah ilmiah (Tabayyun), karena AI hanya asisten pencari ide dan validasi dalil Alquran maupun Hadits wajib dilakukan dengan manual,” katanya.
Kemudian mengutamakan Kejujuran Kreatif atau anti-fitnah, tidak memanipulasi tokoh nyata (deepfake) maupun membuat konten menyesatkan. Setiap konten harus membawa keteduhan, mempererat ukhuwah, dan jauh dari unsur SARA.
Selanjutnya, Syawaluddin Kadafi P M Kom didampingi Bobby yang juga sebagai narasumber langsung melakukan praktek terkait pemanfaatan AI. Antara lain terkait prompt presisi untuk visual dakwah (gambar & poster).
Selain itu, terkait rumus emas formulasi prompt prestisi prompt AI untuk video sinematik dan audio (reels/shorts).
Saat dilakukan praktek, para peserta yang dibagi berkelompok, tampak begitu antusias mengikuti arahan dari kedua narasumber dengan mendatangi tentang tenik AI untuk memproduksi visual dan audio AI.
Di penghujung workshop, dilakukan penilaian yang dihasilkan peserta dan ditentukan empat kelompok peserta terbaik untuk mendapat penghargaan dana pembinaan.
Sebelum dilakukan penutupan, Dr Ahmad Fithrianto SAg MA yang mengucapkan terimakasih khususnya kepada para peserta, kembali menekankan, ilmu yang sudah diperoleh harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai bagian dari dakwah. (nas)