Eksklusif-news.com, SIANTAR
Mata Publik yang menggelar diskusi publik dengan tajuk, “Merasa 2 Tahun Kepemimpinan Prabowo Gibran”,mampu mengundang perhatian ratusan pemuda serta mahasiswa yang turut menyampaikan berbagai pertanyaan dan pernyataan serta kritik tajam.
Kegiatan yang juga dihadiri sejumlah pemerhati politik, anggota DPRD Pematangsiantar seperti Robin Manurung dan Alfonso Sinaga itu, berlangsung di Sobat Cafe, Jalan Raya Pematangsiantar, Selasa (27/10/2026) mulai pukul 15.00 WIB sampai dengan 17.50 WIB.
Koordinator Mata Publik, Anugerah Riza Nasution melalui pembukaannya menekankan, diskusi Publik tersebut, merupakan sikap independen untuk membangkitkan sikap kritis para pemuda dan mahasiswa untuk melaksanakan fungsi kontrol sosial tanpa tendensius.
“Selama ini Mata Publik memang sempat vakum. Tetapi, mulai bangkit kembali melakukan diskusi dengan mengusung isu-isu hangat baik tingkat nasional dan akan dilanjutkan untuk tingkat lokal” kata Riza Nasution yang akrab disapa dengan panggilan Way.
Nara sumber yang tampil dengan moderator Imran Nasution masing-masing mempresentasekan materi masing-masing yang ternyata menimbulkan pro kontra pendapat. Tetapi, masih dalam batas wajar dan membangun.
Nara sumber, Muldri Pasaribu sebagai Dosen Pascasarjana USI menjelaskan, Presiden dan Wakil President Prabowo-Gibran tentu memiliki visi dan misi yang sudah dipaparkan pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 2 tahun lalu.
“Pada perjalanan dua tahun visi dan misi itu telah dilaksanakan dan masih berjalan dalam koridor. Dan, masa dua tahun sebenarnya belum cukup dan masish ada tiga tahun lagi untuk melaksanakan program-program yang ada,” kata Muldri Pasaribu yang juga menyinggung tentang tingkat kepercayaan terhadap kepemipinan Prabowo-Gibran masih baik.
Selanjutnya, nara sumber, Patar Luhut Panjaitan anggota DPRD Pematangsiantar dari Frakksi Gerindra, paparkan tentang sejumlah program yang pada dasarnya dinilai sangat bermanfaat untuk masyarakat.
Antara lain, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) mampu menyerap tenaga kerja lokal serta memberdayakan ekonomi kerakyatan. Terkait dengan kesejahteraan guru dan program kesehatan gratis. Termasuk kemandirian energi.
“Seperti yang disampaikan nara sumber sebelumnya, pelaksanaan visi dan misi Preiden dan Wakil Presiden Prabowo-Gibran masih berjalan sesuai koridor yang tentunya akan terus akan mengalami perbaikan-perbaikan,” ujar Patar Luhut.
Nara sumber, Sutrisno Pangaribuan sebagai Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara yang juga mantan anggota DPRD Sumatera Utara menilai, belum ada catatan positif terkait dengan pelaksanakan program Prabowo-Gibran.
Selain soal kemiskinan yang menurut data mengalami penurunan, nyatanya banyak masyarakat miskin di areal perkotaan yang belum tersentuh. Bahkan, keberadaan Wakil Presiden Gibran yang pendidikannya bermasalah, dinilai menjadi beban bagi Prabowo.
“Catatan saya, Prabowo- Gibran tidak punya catatan positif karena dua tahun bukan hanya sekedar pamer program,” katanya yang juga menyinggung tentang kemunduran demokrasi serta hal lain yang tidak menyentuh kepentingan masyarakat.
Sementara, narasumber terakhir, Randa Wijaya sebagai aktifis justru menyoroti negara yang menurutnya mengarah kepada negara militeristik. Bahkan, para akktifis banyak dibungkam dan ditangkap.
“Undang-undang partai politik juga perlu direvisi karena pada Pemilu masih cendrung mengandalkan transaksional,” ujarnya.
Saat dilakukan tanya jawab, para peserta diskusi begitu antusias mengajukan pertanyaan dan pernytaan serta kritik tentang berbagai hal. Bahkan, waktu yang semula hanya seharusnya selesai pukul 15.30 WIB, malah diperpanjang sampai pukul 17.50 WIB.
Meski terjadi perbedaan pendapat para narasumber dan pernyataan dari peserta diskusi, kegiatan tersebut berlangsung lancar dan kondusif. Bahkan, para peserta serta nara sumber berharap kepada Mata Publik agar semakin sering melaksanakan diskusi publik. Termasuk mengangkat isu lokal untuk meningkatkan sikap kritis demi perbaikan bangsa dan negara serta daerah. (nas)