Persediaan Solar Sempat Habis, Kenderaan Antri Panjang di SPBU dan Pemko Siantar Minta Penambahan Kouta

Selasa, 14 Juli 2026 | 18:19:40 WIB
Antri panjang di SPBU Jalan A Yani

Eksklusif-news.com, SIANTAR     

Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar kerap mengalami kelangkaan karena beberapa SPBU kerap kehabisan stok. Akibatnya, sampai saat ini,  kenderaan umum pengguna solar yang masih disubsidi, terpaksa harus antri panjang, Senin (14/07/2026)

Informasi yang dihimpun dari sejumlah SPBU serta dari Pemko Pematangsiantar, kenderaan umum yang antri di SPBU bukan hanya dari dalam kota. Tetapi juga dari kabupaten dan kota lain, karena Pematangsiantar merupakan kota lintasan.

Karena permintaan meningkat, sejumlah SPBU sempat kehabisan solar. Antara lain di SPBU Jalan A Yani dan SPBU Jalan Asahan.  Untuk mengisinya lagi dari Terminal PT Pertamina Pematangsiantar, terpaksa harus menunggu tiga sampai empat jam. Sehingga, antrian semakin panjang.

“Waktu kita ikut antri pagi tadi, solar malah habis. Kita terpaksa menunggu sampai empat jam,” kata seorang sopir truk plat kuning bermarga Sirait yang antri di SPBU Jalan A Yani, Kecamatan Siantar Timur.

Juni Handoko Nasution Bagian Analis Kebijakan Ahli Muda pada Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Pemko Pematangsiantar mengatakan, kelangkaan dan antrian panjang di SPBU biasanya berlagsung setiap hari Senin atau awal pekan.

“Sabtu dan Minggu, kenderaan umum banyak tidak beroperasi dan saat beroperasi hari Senin, permintaan solar meningkat,” kata Nasution sembari mengatakan, Pemko sudah mengajukan permintaan penambahan kouta kepada PT Pertamina Regional Sumbagut.

Sementara, pihak PT Pertamina Regional Sumbagut dikatakan, untuk penambahan kouta itu sedang dilakukan survey dan saat ini belum selesai karena dilakukan di SPBU seluruh kabupaten dan kota se Sumatera Utara yang juga mengalami masalah soal Solar.

“Penambahan kouta itu akan dilakukan setelah selesai survey karena harus diketahui berapa besar penambahan kouta yang dibutuhkan dan survey masih berjalan,” kata Nasution.

PERTAMAX  BERALIH KE PERTALITE 

Terkait kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax, membuat banyak kenderaan beralih menggunakan Pertalite yang membuat permintaan jadi meningkat. Sementara, saat pengisian Pertalite harus menggunakan  Barcode Seri.

“Terkait  meningkatnya penggunaan Pertalite  karena beralih dari Pertamax juga sedang disurvey untuk diketahui berapa besar penambahan kouta agar tidak terjadi kelangkaan Pertalite,” kata Nasution. 

DAMPAK EKONOMI 

Terpisah, pengamat ekonomi lokal,  Anggiat Sinurat sebagai dosen Fakultas Ekonomi USI mengatakan,  dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi dan kelangkaan BBM jenis solar dan terjadi antrian panjang di SPBU, belum begitu berdampak secara siginfikan terhadap perekonomian masyarakat.

Masalahnya, BBM nonsubsidi  yang mengalami kenaikan digunakan mobil-mobil mewah yang tergolong mahal. Tiak untuk kenderaan umum. Kalau pun terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok itu memang sudah terjadi di tahun 2025 dan ditambah dengan melemahnya nilai Rupiah terhadap Dollar.

”Pada dasarnya, yang menangani soal BBM itu adalah pemerintah. Untuk itu, pendistribusiannya harus runtin dan sesuai kebutuhan. Kalau permintaan meningkat, kouta jelas harus ditambah,” kaat Anggiat Sinurat.

Lebih lanjut dikatakan, masyarakat harus turut mengawasi penggunaan solar agar tidak disalahgunakan. Kemudian,  pemerintah harus menghimbau para industri agar tidak menggunakan BBM bersubsidi seperti solar agar tidak membeli melebihi kebutuhan. (nas)

 

Terkini